TANTANGAN GLOBAL PENDIDIKAN

Penulis

Prof. Suyanto, Ph.D

Artikel ini dimuat pada tanggal 2 Mei 2015 di Koran Kedaulatan Rakyat

 

Setiap tangal 2 Mei bangsa Indonesia memperingatanya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini menjadi sangat penting untuk melakukann refleksi bersama secara personal maupun secara kolektif terhadap cita-citabesar dan luhur dalam bidang pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa.Cita-cita luhur itu kemudian dibingkai menjadi lebih fokus dan spesisik, diberi dasar ideologi bangsa sehingga menjadi rumusan yang lebih ideologis danfilosofis sebagaimana didokumentasikan di dalam UU Sistem Pendidikan Nasionalkita, berbunyi: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-UndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsimengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut sangat visioner, dan bahkan seakan tak lekang di makan zaman. Meski demikian, praksis pendidikan tidaklah selalu sama dan seiring dengan tujuan dan fungsi yang telah terumuskan secara visioner tersebut. Hal ini terjadi karena dunia global dengan berbagai inovasi dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi bergerak dan tumbuh secara amat dinamik. Pertumbuhan dan pergerakan itu suka tidak suka akan berpengaruh  dalam semua aspek kehidupan kita. Sementara praksis pendidikan kita berjalan belum lebih cepat dari pertumbuhan dan perkembangan dunia global. Oleh karena itu proses dan praksis pendidikan kita akan selalu diuji oleh kekuatan-kekuatan global sehingga pada akhirnya akan menghadapi tantangan yang nyata terutama dalam aspek kualitas dan relevansinya. Coba saja misalnya kita melongok pada gerakan global yang lebih dekat denganIndonesia, Masyarakat Ekonomi Asean. Gerakan global ini akan dimulai dan dipraktikkan pada bulan Desember 2015. Sudahkan pendidikan kita mengantisipasi bagaimana membuat program-program belajar yang relevan dengan tuntutan kualitas dan relevansi terhdap berlakunya praktek global meskipun hanya berskala ASEAN? Sungguh hal ini akan menjadi tentangan bagi dunia pendidikan kita agar fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dimandatkan oleh UU Sisdiknas tersebut di atas dapat terwujud.  Jika sektorpendidikan kita mampu mengembangkan dan mencapai fungsi dan tujuan tersebut,tentu kita tidak akan panik menghadapi gerakan global Masyarakat Ekonomi Asean. Ketika Masyarakat Ekonomi Asean nanti diberlakukan, kita harus menerima konsepyang telah disepakati bersama bahwa akan diterapkan basis kerja dan paradigma ekonomisatu produk satu pasar untuk bangsa Asean. Dampaknya produk kita akan bersaingsecara bebas. Thiwul Gunungkidul bisa jadi nanti akan harus bersaing denganthiwul dari Thailand, Malaysia, Vietnam. Begitu pula dalam bidang jasa,pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif kita juga harus bersaing headto head dengan bangsa lain di Asean ketika Masyarakat Ekonomi Aseantelah menjadi kenyataan pada bulan Desember nanti.

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh dunia pendidikan di republik ini agar kita bisa berjaya dalam menghadapi tantangan global seperti itu? Mau tidak mau dunia pendidikan harus mengusung kebijakan kualitasdan relevansi tanpa kompromi. Untuk bisa demikian pendidikan perlumembelajarkan peserta didik di semua jenjang pendidikan akan pentingnyapenguasaan keterampilan abad 21 di mana gerakan global pengetahuan, teknologidan kehidupan selalu terjadi. Pearson, dalam Learning Curve Report 2014,telah berhasil memetakan delapan keterampilan abad 21 yang perlu dikuasai olehpeserta didik  agar mereka bisa hidup dalam era global abad 21. Delapan keterampilan itu meliputi: (1) Leadership;(2) Digital literacy; (3) Communication; (4) Emotional intelligence; (5)Entrepreneurship; (6) Global citizenship; (7) Problem Solving;  dan (8) Team-working. Itulah tantanganpendidikan kita di era global abad 21. Semoga kesadaran kolektif kita bisamembuat kualitas dan relevansi pendidikan nasional selalu terjaga dengan baik,sehingga keterampilan hidup abad 21 bisa kita miliki bersama sebagai sebuahbangsa yang mandiri, bermartabat, dan berdaulat.

Penulis adalah Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta.

You may also like...

Leave a Reply